Tuesday, August 23, 2016

Catatan singkat di sore yang hangat

Sore ini saya kedatangan tamu istimewa seorang penyair senior juga seorang budayawan yang tetap konsisten dengan jalan hidup yang di pilihnya.

Masih seperti dulu tak ada yang berubah, masih berapi api nada suaranya menggambarkan semangat yang tak pernah padam walaupun guratan guratan di wajah dan lenganya tergambar jelas meninggalkan jejak waktu yang di laluinya, sungguh sebuah keberuntungan yang menghinggapiku di sore yang cerah ini.

Banyak yang kami bicarakan dari mimpi mimpi dia hingga keprihatinan dia terhadap kehidupan seni lokal keindramayuan yang di mata dia mengalami degradasi identitasnya.

Dari sekian banyak yang kata yang terucap oleh kita ada beberapa yang menyangkut di hati saya yakni.
- menulis harus dengan hati
- jika harus membakar bakarlah untuk kebersamaan
- kalau mau melacurkan karya saya   sudah kaya sedari dulu
Sungguh sebuah sikap yang harus di apresiasi untuk sebuah idialisme yang begitu teguh di pertahankan selama lebih dari 60 thn.

Yohanto A Nugraha
Metamorfosa

Kepada candra n pangeran
Anjani darah kesadaranku membius diantara suara suara gamelan jadi telaga dzikir.
Bersama orang orang yang menyuarakan kesengsaraan musim sepanjang pantai atas bibir.
Gelombang mengubur prasangkah buruk di alirkan jantung jiwa bagi seorang kekasih begitu tabah menata air mata.
Sementara anak anak berlarian di pusat informasi bangkitkan parikesit.
Atas semar semar jalanan
Dan kita pun membuat persimpangan demi persimpangan menyemarakan pesta kembang api dalam gumpalan kerinduan melengkapi pembusukan nurani mengerami sejarah.
Moyangku diantara limbah pabrik di jejali teknologi
Anjani waska yang tercipta dari lendir kesadaran nurani telah membangun berhala dan menjelma jadi angka angka statistik atas rindu sejara
Ruang tamu melangutkan gerimis sore hari hingga isyarat yang kau janjikan lenyap bersama embun embun semalam jadi padang perburuan di antara pohon pohon cantigi sepanjang pantai yang terluka dan tubuhmu yang menyengat di celah celah kegelisahan.
Mengirimi diammu menuju konspirasi tapi di sinilah kau dapati kehangatan masa silam yang menyapaku tiap pagi atas cakrawala kelam menghubungkan fatamorgana ke dalam kamarku penuh birahi
Anjani suaramu membakar amarah orang orang yang kini jadi momok membentangkan kesunyian waktu terbaca jejakmu di keramik dan sisa tumpukan masa silam meliukan gairah semar semarpun tersenyum menangkap sorot matamu penuh dendam atas derita rindu di apungkan doa seperti rijik hujan yang membakar tubuhmu membuat petak umpet bagi persinggahan air mata yang berputar putar atas dinding rumah kontrakan lewat sentuhan sentuhan yang tak kau sadari dalam tubuh kami membuat lingkaran seperti matahari dalam sakramen ini.

Bagi saya yang dangkal pahami tentang sebuah puisi tulisan di atas sudah cukup bagiku menilai kapasitasnya sebagai maestro puisi di kotaku.
Terimahkasih wa Abuk Yohanto A. Nugraha atas diskusi singkat kita yang baru mulai belajar merangkai sebuah kalimat yang kami anggap sebagai puisi ini

Indramyu 24 agustus 2016

0 comments:

Post a Comment